Monday, May 16, 2011

Ayam Goreng Untuk Adikku Tercinta

“Kak, aku laper” Keluh Hana, seorang gadis kecil sambil memegangi perutnya yang keroncongan

“Mm.. Bentar yah dek, kakak ntar cari makanan” sahut Dika dengan senyum yang manis

“Janji ya kak”

“Iya, kakak janji”

Dika dan Hana adalah kakak beradik yang saling menyayangi 1 sama lain. Terlebih ketika mereka ditinggal oleh kedua orangtua mereka untuk selamanya. Dan dengan sebuah rumah kardus, mereka bertahan hidup

Hari itu hujan yang cukup deras di kota Jakarta, kota yang kejam apalagi bila harus bertahan hidup sendirian.

“Kak, aku laper nih”

“Sabar yah, kakak cari uang dulu” jawab Dika menenangkan

“Hana bantu kakak mulung yah”

“Eh, jangan! Ntar kamu sakit, kan sekarang lagi ujan”

“Ih kakak mah, biar cepet kak” Jawab Hana sambil merengek

“Lain kali kamu bantu kakak cari uang, tapi jangan sekarang yah”

“Mmm.. Oke deh” jawab Hana sambil melebarkan senyumnya

Dika pun pergi untuk memulung. Dengan bermodalkan kantong kresek, ia mencari plastik-plastik yang bagi kita hanyalah ‘sampah’ tidak berguna. 2 jam berlalu, namun Dika belum punya cukup uang untuk membeli nasi beserta lauknya. Dika sampai disebuah warung makan, tidak jauh dari tempat tinggalnya.

“Bu, boleh beli nasinya ngga?” Tanya Dika sambil menundukan kepalanya

“Oh, boleh dek. Mau pakai apa aja?” Seorang dari tempat makan itu bertanya

“Mmm.. Gausah pake apa-apa bu, duitnya nggak cukup” jawab Dika semakin merunduk

“Emm, emangnya duit kamu berapa?”

“Cu..cuma 2000, bu”

“Mmmm… Duitnya kamu simpen aja yah, nanti ibu kasi nasi sama tempe”

“Makasih ya bu…” Jawab Dika dengan senangnya

Tiba-tiba… Ada suara yang tidak Dika kenal “Tambahin ayam sama tempenya lagi buat anak ini, saya yang bayar”

Seorang bapak dengan pakaian putih-putih datang menghampiri.

“Nama saya Joshua. Nama kamu siapa dek? Bapak lihat dari tadi kamu nyariin sampah ya?” Tanya seorang berpakaian kemeja putih itu

“Nama saya Dika pak, saya mulung buat makan”

“Oh, yaudah… Kamu makan dulu deh”

Dika membagi 2 makanannya. Walau sedang senang, ia tidak lupa dengan adiknya yang sedang menunggu. Dika pun makan dengan setengah bagiannya.

“Loh kok cuma setengah, kenapa ga dihabisin? Bukannya kamu laper

“Enggak pak, ini buat adik saya dirumah” jawab Dika sambil kembali tersenyum

Bapak itu pun kembali membalas Senyum dengan senyum yang lebih hangat.
 

 “Bapak boleh antar kamu ke rumah?” Tanya pak Josh dengan ramahnya

Akhirnya, Dika diantar oleh pak Josh ke rumah kecilnya. Sambil membawa kantong plastik yang berisi makanan, Dika mendorong pintu rumahnya.

“Hana! Kakak pulang”

Lalu Hana pun muncul. Begitu haru suasana yang disaksikan bapak Josh itu.

“Dek, kalo kamu butuh sesuatu kamu bilang sama saya aja ya” Kata pak Josh sambil memegang bahu Dika

“Gausah deh pak, saya udah ngerepotin bapak banget” Jawab Dika yang kembali membuat pak Josh itu kembali tersenyum.
 


Akhirnya, pak josh pergi. Hari-hari berat Dika dan Hana kembali seperti semula.

Hana dan Dika adalah pekerja keras. Dika dan Hana mengamen untuk makan paginya. Dan memulung untuk makan malam. Itu mereka lakukan tiap hari, tanpa kecuali. Terkadang, walau sudah bekerja siang malam mereka masih harus berpuasa menahan lapar perut mereka.

Suatu hari, mereka bekerja mengamen di pinggir jalan. Dan mereka sungguh senang, mendapat uang 10.000 rupiah bisa membuat mereka kegirangan.

“Asiiik dapet duit banyak” Hana bersorak dengan senangnya

“Iyah, ntar kakak beliin kamu makanan yang enak”

“Bener yah kak, asik asik. Beliin ayam goreng yah kak”

“Iyah, tenang ajah. Tapi cium pipi kakak dulu dong”

“Iya deeh, muuah”

Ciuman manis adik tercintanya membuat Dika seolah melihat putaran film soal masa lalu mereka. Ketika Dika dan Hana, Ayah dan Ibu mereka masih ada dalam suatu keluarga yang saling mencintai. Keluarga dengan Yesus sebagai inti dari keluarga itu. Namun, masa bahagia itu sudah tidak ada lagi. Kedua orang tua mereka tewas oleh penyakit yang sama, HIV.

Tapi masa lalu bukanlah hal penting bagi mereka berdua. Mereka menjalani hari dengan baik, berharap yang baik dan melakukan yang terbaik.
 


Hampir tiap hari mereka lakukan pekerjaan yang berat itu. Namun suatu hari, mereka bertemu dengan seorang yang tidak mengerti betapa besar penderitaan mereka.

“Eh bocah, kasiin duit lo sini!” Teriak seorang dengan galaknya

“Ga mau, ini buat makan kita!” Dika menolak untuk memberikan uang hasil kerjanya

“Kasih aja kaak” bisik Hana dengan halusnya

“Ini buat makan kamu dek, kakak akan pertahanin sebisa mungkin”

Namun, tekad Dika tidak sekuat pukulan dari si preman. Itu membuat Hana kecil sungguh kasihan.

“Udaah! Ini om duitnya, ambil ajah” Teriak Hana sambil menangis

“Nah gitu dong dari tadi, kan abang lo gaperlu bonyok” Jawab si preman sambil meninggalkan tubuh Dika yang memar-memar

“Maaf ya dek, duitnya jadi abis deh” kata Dika sambil bangkit berdiri

“Iyah, gapapa kok kak. Duit bisa dicari lagi, tapi kalo kak Dika yang Hana sayang ga bisa di gantiin”

“Ah kamu, bisa aja buat kakak senyum” jawab Dika sambil mengusap kepala Hana
 


Hari begitu berat bagi mereka. Tapi mereka bisa membuatnya ringan, mereka selalu menjalani hari yang berat tapi mereka menjalaninya dengan senyum.

Dan dengan senyum itu, mereka dapat mengamen dengan baik. Mereka bernyanyi dengan ceria dan dengan wajah yang senang. Itulah yang membedakan mereka dengan pengamen-pengamen cilik kebanyakan. Alhasil, itu yang kembali membuat mereka bisa mengais rezeki.

Mereka kembali mendapat uang yang cukup untuk makan mereka. Mengingat pengalaman mereka yang kurang enak dengan seorang preman, mereka memutuskan untuk jalan memutar ke rumah mereka. Dan cara itu berhasil, mereka dapat sampai dirumah dengan selamat. Tapi, mereka dikejutkan dengan adanya mobil bertuliskan ‘Satwan Pamonk Pradja’ yang berparkir dekat komplek pemukiman kumuh yang ditempati mereka. Mereka menyaksikan rumah-rumah yang digusur karena menempati tanah ‘liar’ tidak terkecuali rumah mereka. Di depan rumah mereka, sudah banyak aparat yang menunggu perobohan rumah itu. Namun, seorang gadis kecil berusaha menghentikan mereka.

“Jangaan!! Itu rumah kakak sama aku” teriak Hana

“Ini tanah milik negara! Berarti gaboleh ada yang nempatin” bentak aparat yang membuat Hana menangis

“Heh! Jangan nangis! Dasar cengeng”kembali bentakan ditujukan ke gadis kecil yang manis itu

“Dasar aparat ga bertanggung jawab! Beraninya sama anak kecil!” Tiba-tiba Dika ikut bergabung ke konflik itu

“Bocah tengik dasar, gausah ikut campur!” Bentak aparat sambil melemparkan tamparan ke pipi Dika

Plaakkkk! Dengan keras pipi Dika ditampar. Dan itu membuat Hana sungguh marah. Hana pun menggigit tangan aparat yang galak itu.

“Aduh, dasar bego!” Si aparat membentak lagi

“Ini buat bales tamparan ke kakak tadi” balas Hana

“Dasar kurang ajar” bentak aparat sambil mendorong tubuh kecil Hana

Ternyata, tubuh Hana begitu lemah untuk menahan. Tubuh Hana mengarah ke sebuah dinding beton. Dan alhasil, kepala Hana terbentur dengan dinding itu. Cairan merah keluar dari kepala Hana.

“Han, kamu gapapa kan?” Tanya Dika dengan begitu kawatirnya

“Aparat yang jahat itu udah pergi belom kak?” Jawab Hana semakin lemah

“Iya, mereka udah pergi. Rumah kita ngga jadi digusur”

“Kak…”

“Iya sayang?”

“Kakak jaga diri baik-baik yah”

“Jangan ngomong begitu ah”

Hana tersenyum sekali lagi, dan setelah itu Hana tidak sadarkan diri.

“Han, bangun dong!”

Dika pun menggendong tubuh Hana yang tidak sadarkan diri. Dika mencari tumpangan kesana-kemari. Namun tidak ada yang mau membawa tubuh gadis kecil yang penuh dengan darah itu.

Namun, sebuah mobil berhenti saat Dika hendak menyebrang. Turunlah seorang sosok yang Dika kenal. Tanpa basa-basi, mereka langsung melesat ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit.

“Om josh, cepet om.. Cari dokter” Jawab Dika dengan takutnya

“Tenang, om josh juga dokter. Om yang akan nanganin Hana, kamu berdoa yah”

Dika pun mulai berdoa diluar ruang oprasi tempat Dokter Joshua mengobati pendarahan adik tercintanya itu. Dika berdoa tidak henti-hentinya. 2 jam dihabiskannya untuk berdoa dan mohon kesembuhan adiknya. Akhirnya, sang dokter keluar.

“Om, Hana gimana?” Tanya Dika dengan khawatirnya

Namun, dokter Joshua hanya terdiam

“Om! Jawab om” Air mata mengalir dari pipi Dika

Dokter Joshua masih terdiam. Dan langsung memeluk erat Dika

“Kamu yang sabar yah” akhirnya dokter Joshua mengucapkan kata untuk menguatkan Dika

Air mata…. Hanya itu yang bisa mengekpresikan kesedihan Dika. Dika terus menangis sampai benar-benar tidak bisa mengeluarkan air mata lagi


Dika diangkat menjadi keluarga Dokter Joshua. Hari-harinya sungguh berkecukupan. Namun, Dika tidak pernah lupa dengan adik yang ia cintai itu. 8 tahun sudah berlalu, sekarang Dika sudah punya profesi sebagai seorang dokter. Tiap hari, ia melayani orang-orang seperti. Ia menjadi tangan kanan Tuhan dalam menyembuhkan orang sakit. Dari kalangan muda-sampai tua, dari kalangan atas sampai kalangan terbawah. Walau sebagai dokter profesional muda, ia tidak minta bayaran dari orang tidak mampu.

Suatu siang
“Om Josh, Dika makan siang dulu yah”

“Panggil papa dong, lupa mulu kamu”

“Ohiya, papa”

“Nah gitu dong, jangan lama-lama yah soalnya banyak pasien”

Dika membeli makanan di kantin rumah sakit ayahnya dan ia pergi ke suatu tempat. Tempat yang sungguh indah, tempat yang penuh dengan bunga-bunga an. Ia pun membuka bingkisan dan tenyata ia membawa 2 potong ayam goreng. Ia hanya makan 1 potong, sisanya diletakan dekat sebuah batu yang bertuliskan ‘Disini terbaring tubuh Adik Yang Dicintai’ seorang gadis manis yang meninggal akibat pendarahan 8 th lalu.
 


“Kita tidak bisa menolak untuk memulai hidup dengan tangisan, tapi kita bisa memilih untuk mengakhiri kehidupan kita dengan tersenyum.”

sip, gimana? baguskah? comment yaa :)
okehh, tunggu cerepn selanjutnyaa yaa..
byee :)

No comments:

Post a Comment